Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar Sejarah

Bersama 30-an kader SPKS kami belajar sejarah perkebunan di Indonesia, dari era kolonial hingga era sekarang. Belajar sejarah, menjadi lebih mudah sambil melihat foto-foto lama (hitam-putih) dari era kolonial. Kita seakan-akan berada pada masa itu. Kita seolah-olah merasakan betapa getir nasib bangsa ini ditindas bangsa asing, seiring dengan pembangunan perkebunan di Nusantara. Sejarah perkebunan di Nusantara, adalah sejarah kolonialisme itu sendiri. Masuknya bangsa-bangsa asing tidak terlepas dari upaya mereka untuk menguasai dan memonopoli hasil kebun rakyat Nusantara. Bahkan, praktek perkebunan modern saat ini, tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada beberapa ratus tahun yang lalu. Mempelajari sejarah sangat penting bagi para petani. Bung Karno pernah mengingatkan kita untuk jangan sekali-kali kita melupakan sejarah (Jas Merah). Bahkan Jas Merah sekarang sudah berganti Jaket Merah (Jangan keterlaluan melupakan sejarah).

Pendidikan Kader

Akhir pekan lalu, saya dan dua sahabat memfasilitasi pendidikan kader petani sawit di Sanggau. Kegiatan yang dilakukan selama 3 hari itu dimaksudkan untuk mencetak kader bagi Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Kalimantan Barat. Sebagai organisasi baru, SPKS membutuhkan banyak kader untuk menggerakkan roda organisasi. Dalam pendidikan ini, saya dibantu oleh dua sahabat saya yang selama ini sudah malang-melintang di dunia pendidikan petani, Fajri dan Hendra. Dengan sahabat yang terkahir ini, saya sudah lama tidak berkomunikasi. Tapi saya tahu betul, ia menjadi gawang bagi Serikat Tani Bengkulu (STAB).

Dedeng Alwi

Semak itu dibiarkan tumbuh liar. Kota Palu terasa panas, ketika kakiku menapaki komplek pekuburan itu. Di sini, bersemayam damai jasad sahabatku, Dedeng Alwi. Seorang sahabat yang sangat berkesan dalam hidupku. Tuhan punya rahasia. Dialah yang menentukan kapan saatnya seorang anak manusia dipanggil pulang. Termasuk sahabatku ini, dia dipanggil pulang dalam usia yang belum terlalu tua. Meski sesungguhnya, masih banyak kerja di dunia ini. Dari tanggannya, lahir berpuluh-puluh aktivis lingkungan yang pro rakyat. Maklum, almarhum adalah salah satu dedengkot aktivis LSM di Palu. Karena itu pulalah, aku mengenal sosok almarhum sebagai guru bertangan dingin. Bung, semoga engkau damai di sisi Tuhan Yang Maha Mengerti. Aku sangat kehilangan, sosok sahabat seperti kamu.

Dutpong

Saya baru kembali dari Kampung Cirewet untuk memfasilitasi Festival Kehutanan Adat yang diselenggarakan oleh KpSHK. Bila tidak macet, Kampung Cirewet bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 2,5 jam dari Kota Bogor. Kenapa disebut Cirewet? Apakah orang-orang yang tinggal di sana memang terkenal cerewet? Ntahlah, karena saya tidak menemukan narasumber yang bisa menjelaskan dengan pasti asal-usul nama Cirewet itu. Yang jelas, ketika saya memasuki kampung ini, saya langsung disambut oleh udara dingin. Maklum kampung ini terletak di daerah pegunungan. Tidak cuma itu, airnya pun terasa dingin menggigit tulang. Dengan keramahan yang tidak dibuat-buat, warga Kampung Cirewet menyambut para peserta yang berasal dari berbagai pelosok Nusantara. Tarian khas Sunda pun mengiringi kedatangan kami. Tidak itu saja. Pada malam harinya, kami disuguhi tarian jaipong dan musik dangdut. Di wilayah ini, kombinasi dangdut dengan jaipong dikenal dengan kesenian dutpong. Joget penyanyinya teramat elok. D...

Mati Lampu

mati lampu bapak ndak tau... aku sedang bermain dengan abangku... Begitu cuplikan lagu dangdut yang biasa dinyanyikan Paksi kalo lagi mati lampu di rumah. Dan Paksi terbilang sering nyanyi lagu itu, maklum di rumahnya memang teramat sering mati lampu. "Mengapa lampu mati pak?" begitu tanyanya lugu. Ya karena PLN, sebagai perusahaan monopoli listrik gak mampu mengalirkan listrik ke rumah. Karena pembangkitnya banyak yang rusak. Mana sumber energinya cuma dari BBM lagi. Sekarang khan BBM mulai langka. Makanya pemerintah sedang mencari sumber energi yang lain. Contohnya biodiesel. Untuk menyediakan biodiesel, pemerintah berencana mau memperluas kebun sawit di mana-mana. Ambil contoh di Kalbar. Kalo saat ini luas kebun sawit baru mencapai 400an ribu ha, maka rencananya akan dibuka kebun hingga lebih dari 2 juta ha. Katanya seh untuk sumber energi listrik, biar rumah Paksi gak sering mati lampu lagi. Sering mati lampu juga banyak dikeluhkan oleh pengusaha. Kata mereka usahanya gak...

MK dan Pilkada

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas judicial review UU No 32/2004 tentang Pemda bahwa Pilkada dapat diikuti oleh pasangan calon independen disambut gembira berbagai kalangan. Terutama mereka yang beranggapan bahwa parpol sebagai faktor penghambat hak-hak politik warga negara. Namun demikian putusan tersebut dianggap terlambat. Mengingat meski sudah jauh-jauh hari sebelumnya judicial review diajukan, putusannya baru dibacakan pada Senin, 23 Juli 2007 lalu. Sehingga beberapa calon independen untuk Pilgub DKI Jakarta sudah tidak memungkinkan ikut dalam Pilkada yang bakal digelar bulan depan. Berbeda dengan DKI Jakarta, di Kalimantan Barat, Pilgub baru akan dilaksanakan pada bulan November mendatang. Hal ini tentu saja akan merubah peta konstalasi politik di Kalbar. Bila selama ini hanya ada 3 pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang muncul menggunakan perahu parpol, pada hari-hari mendatang tentu akan diramaikan dengan kehadiran beberapa pasangan independen. Apapun modelnya, semo...

Mac Paksi

Apa jadinya jika Paksi main game di Mac? Ya beginilah tampangnya. Lho tapi kok dia telanjang? Ya begitulah kelakuannya. Main game apa seh? Kok serius banget? Game Tribal Trouble. Kalo dia seh bilangnya Game Papua. Hehehe. Gamenya kayak apaan tuh? Paksi harus membuat 2 rumah, mirip rumah penduduk asli orang-orang Pegunungan Tengah Papua. Rumah pertama untuk memproduksi pasukan, dan rumah kedua untuk memproduksi senjata. Bisa dipilih, mau senjata tombak atau kampak. Untuk bisa membuat senjata, Paksi harus menguasai bahan baku berupa kayu dan bahan tambang yang tersedia di hutan. Namun sering kali terjadi perebutan sumberdaya dengan suku-suku musuh di sana. Untuk itu pasukan pemukul harus segera dikerahkan. Setelah tersedia cukup pasukan lengkap dengan senjatanya, tugas Paksi selanjutnya adalah mengempur markas suku-suku lawannya. Sampai seluruh pasukan musuh dan markasnya hancur, barulah Paksi dikatakan sebagai pemenang. Beginilah kebiasaan Paksi saban hari. Bangun tidur langsung main ga...