Langsung ke konten utama

Dutpong

Saya baru kembali dari Kampung Cirewet untuk memfasilitasi Festival Kehutanan Adat yang diselenggarakan oleh KpSHK. Bila tidak macet, Kampung Cirewet bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 2,5 jam dari Kota Bogor.

Kenapa disebut Cirewet? Apakah orang-orang yang tinggal di sana memang terkenal cerewet? Ntahlah, karena saya tidak menemukan narasumber yang bisa menjelaskan dengan pasti asal-usul nama Cirewet itu.

Yang jelas, ketika saya memasuki kampung ini, saya langsung disambut oleh udara dingin. Maklum kampung ini terletak di daerah pegunungan. Tidak cuma itu, airnya pun terasa dingin menggigit tulang.

Dengan keramahan yang tidak dibuat-buat, warga Kampung Cirewet menyambut para peserta yang berasal dari berbagai pelosok Nusantara. Tarian khas Sunda pun mengiringi kedatangan kami.

Tidak itu saja. Pada malam harinya, kami disuguhi tarian jaipong dan musik dangdut. Di wilayah ini, kombinasi dangdut dengan jaipong dikenal dengan kesenian dutpong. Joget penyanyinya teramat elok. Dan akan semakin hot bila ada yang menyawer dengan berlembar-lembar uang kertas, mulai dari pecahan seribu hingga seratus ribu rupiah.

Hmmm mungkin sekali-sekali anda perlu menontonnya. Dan akan lebih baik lagi kalau anda ikut nyawer. Wer, wer, weeeeeeeer.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mandi Bola

Ini sepenggal cerita dari aktivitas Damar Keina Lebaying. Damar begitu biasa ia dipanggil, memilih Taman Impian Jaya Ancol untuk mengisi liburan sekolahnya kemarin. Di Ancol, ada beberapa wahana permainan dan hiburan yang dia nikmati, bersama sepupunya, Rifqi, Denys, dan Hafidz. Pertama-tama dia mengunjungi Sea World. Melihat hiu dalam kenyataan merupakan pengalaman pertamanya. Karena selama ini ia baru melihat di film atau televisi. Dari Sea World, lantas mencoba naik Gondola. Melihat-lihat pemandangan kawasan Ancol dari dalam kereta gantung sungguh mengasyikkan. Meski Denys sempat agak ketakutan, Damar santai aja. Kemudian ia minta berenang di wahana Atlantis. Semua kolam dicobanya. Dari kolam air deras hingga mandi bola. Berenang memang kesukaannya. Kalo sudah berenang lupa deh harus berhenti. Lebih dari dua jam mereka habiskan waktunya di wahana ini. Tak terasa hari sudah menjelang petang. Sebelum pulang ke rumah mbahnya, mereka menyempatkan diri untuk melihat monumen. Capek banget...

Kaki Pelangi

Ini kejadian yang sangat langka. Rabu 27 Juni 2007, sekitar jam 3 sore, Damar anak pertamaku teriak-teriak memanggil ibunya. "Ibu, ibu, ibu sini lihat ada pelangi di depan rumah kita," teriaknya. Ada apa dengan pelangi? bukankah melihat pelangi itu hal biasa? pikir ibunya. Memang betul, kalau kita melihatnya pelangi di atas langit. Tapi yang ini memang beda. Yang dilihat Damar adalah kaki pelangi. Ia melihatnya dari jarak sekitar 3 meter. Pelangi itu ada di depannya. Apa yang dilihat Damar juga dibenarkan oleh ibunya. Istriku itu merinding dibuatnya. Karena selama ini, ia pun baru pertama kali melihat kaki pelangi. Adakah ini fenomena alam biasa? Ataukan tanda keberuntungan bagi orang-orang yang melihatnya? Walahualam, yang jelas Damar dan ibunya telah melihat kaki pelangi, kemarin sore.

Tujuan Pertemuan

Suasana pertemuan begitu gaduh. Peserta mengoceh tak karuan. Mereka merasa tidak diberikan informasi yang cukup tentang maksud dari pertemuan yang diikutinya malam itu. Beruntung, seorang anak muda tampil ke depan podium. Dengan suara tenang namun tajam, ia menjelaskan satu persatu tujuan dari pertemuan tersebut. Sering kita lupa atau abai menyampaikan maksud dan tujuan dari sebuah pertemuan. Akibatnya banyak peserta bingung apa tujuan dari pertemuan yang diikutinya. Untuk mengatasinya, sebaiknya tujuan pertemuan kita tulis dalam papan tulis atau kertas plano. Dari tujuan pertemuan, kita bisa buat alur dari pertemuan itu sendiri. Ini adalah cara mudah kita mencapai tujuan. Alur pertemuan bisa menggambarkan tahapan-tahapan yang akan dilewati selama pertemuan berlangsung. Selamat mencoba!