Langsung ke konten utama

Postingan

Naik Kelas

Hari ini Damar bagi rapot.  Lebih cepat dua minggu dari jadwal nasional yang jatuh pada tanggal 28 Juni 2008. Setelah buku laporan pendidikan itu dibuka, jumlah nilai pada semester 2 meningkat dari 710 pada semester 1 menjadi 755. Ada 10 mata pelajaran yang diajarkan di kelas satu SD Bruder Nusa Indah Pontianak. Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Senibudaya dan Keterampilan, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin. Dua mata pelajaran yang terakhir adalah muatan lokal. Menarik dicermati nilai Damar di mata pelajaran muatan lokal ini. Nilai Bahasa Inggris yang pada semester 1 tercatat 65, pada semester 2 turun menjadi 60. Nilai Bahasa Inggris ini merupakan nilai terkecil dari seluruh mata pelajaran. Sementara nilai Bahasa Mandarin 90, naik cukup signifikan dari semester 1 yang hanya 75. Dan nilai Bahasan Mandarin adalah nilai tertinggi dari sepuluh mata pelajara...

Linus Karubun

Baru seminggu lalu aku mengunjungi rumah sahabatku itu di bilangan Sentani, Papua. Hari masih pagi ketika pesawat Garuda Indonesia yang aku tumpangi mendarat di Bandara Sentani. Sahabatku Linus Karubun sudah menjemputku di luar. Kebetulan bukan cuma aku yang dijemputnya, melainkan ada Nurcahyo Adi dari Jakarta dan Marco Watimena dari Merauke. Kami lalu diantar Linus ke Hotel Yasmin di Jayapura. Dalam perjalanan ke Jayapura, kami sempat singgah di Kantor WWF Region Sahul di Waena. Setelah sejenak menghirup kopi dan menyimpan koper di kamar hotel, Linus mengajakku ke rumahnya. Kali ini saya berdua saja dengan Linus. Kami kembali ke Sentani. Karena rumah Linus tidak jauh dari bandara. Setiba di rumahnya, saya bertemu dengan istri dan anak kedua Linus. Hmm, anak perempuan yang lucu. Ia masih sekolah di TK. Abangnya yang sudah kelas 4 SD tidak tampak. Tak lama kemudian, istrinya menghidangkan segelas kopi untukku. Matahari sudah hampir di atas kepala. Rasa lapar sudah menyerang perut. Linus...

Kekuatan Politik Alternatif

PNLH IX Mataram tiga tahun lalu, mengamanatkan agar Walhi membangun kekuatan politik alternatif. Namun demikian tidak lantas Walhi harus berubah menjadi partai politik. Hal ini yang kembali ditegaskan Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Walhi pada pembukaan PNLH X di Pasar Seni Gabusan, Jogja, Kamis, 17 April 2008. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana Walhi akan membangun kekuatan politik alternatif itu?. Emmy Hafild, Direktur Eksekutif Walhi periode 1996-2002, memberikan formula. Seharunya Walhi membuka peluang seluas-luasnya bagi keanggotaan individu. Ia memberikan contoh seperti Green Peace. Sayangnya draft perubahan statuta Walhi justru akan menghapus keanggotaan individu. Ini paradoks. Kekuatan politik alternatif hanya mungkin bisa dibangun oleh kekuatan orang-orang yang menjadi pendukung utama Walhi. Jadi perlu dibuang jauh-jauh pikiran untuk menghapuskan keanggotaan individu, bila Walhi benar-benar serius akan membangun kekuatan politik alternatif. Blogged with the Flock B...

Kematian Bayi

Akhir bulan lalu dan awal bulan ini, saya berkesempatan mengunjungi Garut dan Banda Aceh. Adalah Penala yang bermurah hati mengajak saya untuk mendampingi para fasilitator Dinas Kesehatan di kedua daerah itu mengelola lokakarya perencanaan program penurunan kematian ibu dan anak. Ironis memang, ketika angka kematian ibu dan anak, termasuk bayi dan bayi baru lahir masih cukup tinggi, banyak orang masih tidak ngeh!. Termasuk mereka yang justru mempunyai kewenangan untuk menentukan anggaran bidang kesehatan. Tarik menarik kepentingan antarsektor masih cukup tinggi di negeri ini. Debat mana yang lebih penting antara sektor kesehatan, atau sektor pendidikan, atau sektor ekonomi, masih mewarnai gedung-gedung dewan yang katanya terhormat. Sementara debat kusir masih berlangsung di gedung-gedung yang megah itu, ratusan bayi (dan bayi baru lahir), anak atau bahkan ibu yang sedang melahirkan terus bergelimpangan meregang nyawa setiap harinya. Mereka yang menjadi korban, bukan karena bodoh atau t...

Bebas Utang

Mungkinkah Indonesia bebas utang? Pertanyaan ini yang coba dijawab dalam Pertemuan Nasional Koalisi Anti-Utang (KAU) pada 12-14 April 2008 di Jogja. Bila merujuk pada sumberdaya yang dimiliki, tentunya pertanyaan tersebut mudah saja dijawab. Kita tahu persis, negeri yang terbentang di zamrud khatulistiwa ini, teramat kaya dengan sumberdaya alamnya. Namun ironisnya, negeri ini juga memiliki utang yang tidak sedikit. Para pemimpin negeri ini memang kurang begitu cerdas mengelola sumberdaya yang dimilikinya. Mereka lebih memilih jalan pintas untuk menggerakkan perekonomian negara, yakni melalui utang luar negeri. Akibatnya, bangsa ini terperangkap dalam jebakan utang yang seakan tiada akan pernah berakhir. Saya pikir, sudah saatnya kita mulai memikirkan kekuatan diri sendiri. Mulailah dari kampung untuk memajukan negeri besar ini. Lupakan utang, utang dan utang untuk mengongkosi pembangunan yang justru tidak dirasakan oleh orang-orang di kampung. Blogged with the Flock Browser

Pertemuan Aktivis Lingkungan

Jogja dipilih oleh para aktivis lingkungan hidup Indonesia untuk menggelar pertemuan tiga tahunan. Tepatnya di Pasar Seni Gabusan, pada 17-22 April 2008, akan diselenggarakan Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup X. Serangkaian aktivitas akan digelar di sana. Tidak terkecuali pemilihan fungsionari Walhi yang baru. Tercatat ada 4 kandidat yang bakal bersaing untuk memperebutkan posisi Direktur Walhi mendatang. Mereka antara lain, Berry N. Forqan (Direktur Walhi Kalimantan Selatan), Slamet Daryoni (Direktur Walhi Jakarta), Farah Sofa (Deputy Direktur Walhi), dan Nur Hidayati (mantan Kepala Divisi Kampanye Walhi). Siapakah yang bakal memenangi kompetisi 3 tahunan ini? Kita tunggu saja hasilnya di Jogja. Yang jelas mereka semua adalah kader-kader terbaik Walhi saat ini. Selamat berkompetisi secara fair! Blogged with the Flock Browser

Kebun Binatang

Hari Minggu kemarin, anak saya ngajak main ke kebun binatang. Mereka membayangkan akan melihat gajah, jarapah dan harimau. Mungkin itulah bayangan mereka tentang Kebun Binatang Pontianak, yang seperti Kebun Binatang Ragunan di Jakarta. Mereka agak sedikit kecewa ketika tiba di sana. Gajah yang dicarinya tidak ada, demikian pula dengan Jarapah dan Harimau. Tapi kekecewaannya agak sedikit terobatai ketika melihat Orangutan. Lucu bergelayutan di kerangkeng besi yang sempit. Sayangnya, Kebun Binatang Pontianak kurang terawat. Sampah dedaunan dan sampah plastik berserakan di mana-mana. Termasuk di dalam kandang satwa. Kandang buaya termasuk yang paling jorok. Bekas botol plastik air mineral dan minuman kaleng ada di sana. Hemmm, adakah yang peduli dengan nasib mereka, para satwa yang malang itu? Saatnya Pemda turun tangan. Pemda harus mengucurkan dana untuk memperbaiki Kebun Binatang Pontianak. Karena kebun binatang merupakan wahana ilmu pengetahuan sekaligus media rekreasi keluarga. Blo...